MENDIDIK BUAH HATI DENGAN HATI DAN HATI-HATI

“Ummi Dhini, Hammam dibeliin sepatu ya. Sepatunya sudah rusak.” Sebuah permintaan bernada merayu keluar dari mulut mungil Hammam, anak pertama kami yang baru berusia 3,5 tahun. Memang sepatu merahnya sudah kelihatan agak rusak karena setiap hari dipakai untuk sekolah di sebuah Play Group di Karangmalang.

“Mari nak ikut Ummi sebentar.” Jawab istriku sambil mengajak Mas Hammam ke ruang tengah tempat kami biasa bercengkrama dan bercanda. Nampaknya istriku tidak langsung mengabulkan permintaan Mas Hammam, akan tetapi mengajaknya belajar tentang sesuatu.

Mas Hammam semakin penasaran ketika dilihatnya Ummi mengambil bekas tempat minumnya yang sudah rusak karena retak dan tidak bisa digunakan lagi. Tempat minum berbentuk seperti gelas panjang itu terbuat dari plastik dan biasa dibawa Mas Hammam ke sekolah. Suatu ketika gelas itu terjatuh dan retak akibatnya ketika diisi air gelas tersebut bocor dan tidak bisa dipakai.

Berhati-hatilah bermain hati kalu tidak ingin sakit hati dan bersedih hati

“Itu buat apa, Ummi ?” tanya Mas Hammam begitu polos.

“Tunggu dulu ya, Mas. Lihat Ummi mau memanfaatkan gelas ini untuk membeli sepatu,” jawab istriku.

Kemudian istriku membuka tutup gelas itu dan melubanginya dengan pisau cutter. Setelah proses pelubangan selesai, tutup tersebut dikembalikan untuk menutup gelas. Kemudian istriku mengambil kertas dan menulis sesuatu untuk ditempel di gelas. Tulisan besar dan jelas itu berbunyi : “TABUNGAN UNTUK BELI SEPATU BUAT MAS HAMMAM.”

Subhanallah. Ternyata istriku sedang mengajari anakku tentang motivasi ikhtiar. Untuk mendapatkan sesuatu memang dengan usaha / ikhtiar. Di sini Ummi Dhini mengajak anakku untuk menemukan sebuah hikmah dalam rangka mendapatkan sepatu barunya Mas Hammam diajak untuk berikhtiar dengan cara menabung.

Berhati-hatilah bermain hati kalu tidak ingin sakit hati dan bersedih hati

Sesuatu keinginan dari anak kita terkadang tidak harus segera dipenuhi. Mungkin sebagian dari kita sebagai orang tua ketika mendengar anak kita meminta sesuatu terkadang langsung direspon dan dipenuhi seketika itu juga. Hal itu mungkin saja terjadi manakala kondisi ekonomi kita mampu. Namun ceritanya akan lain ketika kita memang benar-benar tidak memiliki uang itu memenuhi permintaan anak kita. Betapa sedihnya kita, ketika tidak bisa memenuhi permintaan anak kita padahal kita ingin sekali membuat anak kita bahagia. Di sini peran ibu sangatlah penting terutama dalam mendidik anaknya. Tentu saja mendidiknya dengan hati, bukan denga nafsu.

Seorang Muhammad Quthub dalam Kitab Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2 pernah berkata bahwa : “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.”

Berhati-hatilah bermain hati kalu tidak ingin sakit hati dan bersedih hati

Satu hal yang ingin kami tekankan. Terlepas dari apakah kita memiliki kecukupan ekonomi ataupun tidak. Seyogianya kita bertindak bijak, tidak mudah begitu saja memenuhi permintaan anak. Karena ketika anak terbiasa diberi sesuatu maka suatu saat dia akan menuntut untuk selalu dipenuhi keinginannya tanpa memandang kondisi orang tuanya saat itu.

Jangan memberi ikan langsung, tapi berilah kailnya agar dia dapatkan ikan itu dengan tangannya sendiri. Adalah sebuah kepuasan tersendiri ketika sesuatu keinginan dapat dicapai atau diraih sendiri. Ingatlah periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periode ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)

Mudah-mudahan dengan tulisan ini kita lebih berhati hati mendidik buah hati kita terutama dengan hati, agar putra-putri kita menjadi pribadi yang sholeh, mandiri dan berakhlaq mulia. Waallahu ‘alam bishshowab.

3 Tanggapan

  1. bagus, bagus, bagus….

    Suka

  2. sip…sip

    Suka

Silahkan tulis isi H❤‌ti....mu......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Tapak Suci Sragen

  • Wallpaper Tapak Suci

    download wallpaper cantik
  • XBANNER MINI TS
  • Rank :

    PageRank Checker
  • Twitter

  • Follow me on Twitter

  • free counters

  • IP
  • My Popularity (by popuri.us)
  • Berbagi Isi H❤‌ti

  • Isi H❤‌ti

  • smadav antivirus indonesia Sumber: SMADAV PRO GRATIS TANPA DONASI - Peluang Usaha
  • Yahoo! Avatars
  • Isi H❤‌ti Terbaru

  • Siny❤‌l H❤‌ti

    abg adab aib Allah amal anak animasi ayah Bisnis cinta damai doa download gadis gembala Gosip haji hati hati-hati hemat Hias hidup hikmah ibadah IKADI ikhlas Ilmu indonesia islam Islami jiwa Kajian kapal Kembara KISAH kULTUM laut Lc masjid menabung mendidik Merapi motivasi musibah muslim nafsu pAGErANK Penampakan PR Puasa Ramadhan Rasulullah romadhon rusuk s3 Sakit samudera santai semangat SEO sepatu sopan Sragen sTRATEGI SYAWAL Teman THL-TBPP uang ummi unta Ust. Hatta Syamsuddin Walimatul 'Ursy wallpapaer Wallpaper Wanita
  • p align="center">
    </p
  • <p align="center">
    </p
  • %d blogger menyukai ini: